NasionalUmum

Transformasi PLN Untungkan Laba 13,17 Triliun, Cek Faktanya

Petugas PLN saat sedang melakukan pengecekan arus listrik, Kamis (9/6)

JAKARTA Penaindonesia.net – PT PLN (Persero) menjadikan momentum pandemi Covid-19 untuk bertransformasi. Digitalisasi, efisiensi, dan inovasi perluasan bisnis serta peningkatan pelayanan pelanggan menjadi jurus PLN dalam meningkatkan performa keuangan. Dan, hasilnya pun berbuah manis. Tahun 2021, PLN membukukan laba Rp 13,17 triliun.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, laba yang dikantongi PLN tersebut merupakan laba terbesar sepanjang sejarah. “Perolehan laba di tengah masa sulit ini buah dari transformasi yang dilakukan PLN dari segala lini, sehingga sukses mengefisiensi biaya operasional (operating expenditure/Opex) dan belanja modal (capital expenditure/Capex),”kata Darmawan, Rabu (8/6).

Transformasi yang dicanangkan sejak April 2020 ini, merupakan titik awal komitmen PLN untuk berubah. Sebab, tantangan yang dihadapi sudah sangat berbeda. Ada tantangan dekarbonisasi, desentralisasi, digitalisasi, sehingga tidak bisa lagi bergerak dengan cara usang dan biasa.

“PLN menata ulang seluruh proses bisnis, dari sisi input energi primer, operasional pembangkit, transmisi, dan distribusi listrik, hingga layanan pelanggan. Dari proses yang serba manual, menjadi terdigitalisasi penuh. Dari proses yang kompleks, menjadi lebih ringkas dan cepat,”ucap Darmawan.

Keseluruhan program transformasi ini merupakan upaya PLN untuk melakukan efisiensi dan memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Kehadiran PLN sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan wujud kehadiran negara untuk menghadirkan keadilan energi untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Baca juga : Diduga Negara Alami Kerugian Rp1,2 Triliun, Kejagung Bongkar Pencurian Uang Rakyat oleh PT Waskita

ITAKIMO Konten Kreator Inspiratif yang Sudah Go Internasional

Melalui transformasi yang dilakukan, seperti digitalisasi pelayanan, integrasi supply chain, dan peningkatan capacity building, mampu menurunkan biaya pokok penyediaan listrik, menurunkan biaya bunga, dan meningkatkan EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization/pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi).

“Hasilnya, tahun 2021 menjadi momentum spektakuler laba bersih PLN melonjak tinggi dari Rp 5,99 triliun di tahun 2020, menjadi Rp 13,17 triliun pada tahun 2021,” ujar Darmawan.

Perjuangan menjalankan transformasi juga berkontribusi bagi pendapatan negara. Kontribusi pajak meningkat Rp 5,75 triliun dari Rp 25,47 triliun pada 2020 menjadi Rp 31,22 triliun pada tahun 2021. EBITDA naik hingga 2,9 persen, dari Rp 86,69 triliun menjadi Rp 89,17 triliun pada akhir 2021.

Menurut Darmawan, pandemi menjadi tantangan yang sangat berat. Penurunan permintaan, berkombinasi dengan masuknya suplai listrik baru di dalam sistem kelistrikan.

“Akan tetapi, PLN tak menyerah. Itu justru menjadi momentum bagi PLN untuk melakukan perubahan organisasi, dan memperbaiki kualitas layanan kepada pelanggan secara besar-besaran,” tambah Darmawan.

Pada tahun lalu, PLN mencatat pendapatan penjualan listrik PLN meningkat sebesar Rp 13,96 triliun, menjadi Rp 288,86 triliun. Jumlah pelanggan meningkat dari 79 juta menjadi 83 juta.

“Perjuangan PLN pun dilakukan dari berbagai lini. Di sisi pembangkitan, PLN merombak tata kelola operasional. Dari yang sebelumnya tidak terintegrasi, dengan digital control room, maka ada sistem kendali yang efektif,” jelas Darmawan.

Perawatan pembangkit yang sebelumnya tidak terjadwal sistematis, dengan advance maintenance, maka perawatan pembangkit dapat diprediksi. Sehingga, yang awalnya proses bisnis pembangkitan memakan biaya tinggi, kini bisa diefisienkan.

“Hasilnya, biaya pokok penyediaan listrik turun Rp 15 per kilowatt hour (kWh) menjadi Rp 1.333 per kWh,” ujar Darmawan.

Darmawan mengungkapkan, kondisi pandemi mengakibatkan penurunan konsumsi listrik, berdampak pada tantangan oversupply. Untuk itu, PLN melakukan berbagai upaya konsolidasi dengan para pengembang Independent Power Producer (IPP) untuk melakukan penjadwalan ulang operasi pembangkit. Sehingga, seluruh upaya PLN bersama IPP ini dapat menghasilkan cost efficiency di tahun 2021 sebesar Rp 37 triliun.

Sebelumnya, layanan PLN identik dengan layanan yang lambat dan berbelit. Berbagai sistem pelayanan di PLN tidak terhubung satu dengan yang lainnya, baik dari input laporan masyarakat maupun tindak lanjut laporan, masih dikerjakan secara manual dan tidak terintegrasi.

Perubahan terus dilakukan secara paripurna. Berbagai fitur dikembangkan mulai dari layanan pasang baru, tambah daya, sampai berbagai transaksi beyond kWh terintegrasi dalam satu platform, dengan pembayaran yang mudah dan praktis melalui super aplikasi PLN Mobile.

Transformasi pelayanan ini berhasil mengerek indeks kepuasan secara drastis. Pengguna PLN Mobile meningkat, dari hanya ratusan ribu menjadi hampir 23 juta pelanggan. Tingkat kepuasan yang diukur dari rating PLN Mobile melonjak drastis, dari kategori buruk yaitu 2,5 menjadi excellent yaitu 4,8 dari skala 5.

“Tantangan ke depan bukan makin ringan. Pencapaian terbaik adalah perjuangan yang tidak pernah usai. PLN yang semakin efisien, efektif, inovatif, dan trengginas, terus-menerus digaungkan. Karena sudah terbukti memberikan manfaat bagi korporasi, masyarakat, dan negara,” tutur Darmawan. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button