BeritaDaerah

Hentikan Jual Gas ke Singapura, Begini Negatifnya

Direktur MRPI, Sunarto Ponirin, Jumat (25/8)

Penaindonesia.net Jakarta – Direktur PT Montreal Refinery Petrochemical Indonesia (MRPI) proyek Tanjung Api Api Sumsel, Sunarto Ponirin menyebut semangatnya membangun Sumsel, membangun negeri.

“Kita ini dari satu teknologi baru merubah gas menjadi minyak. Intinya kita menginvestasi di sini di Tanjung Api Api, Sumsel, dengan mengutamakan tenaga kerja sekitar lokasi nantinya,” kata Sunarto Ponirin dikutif dari Palembang Tribunnews.com, Rabu (24/8/2022).

Sunarto menjelaskan, untuk nilai investasi minimum Rp 600 triliyun pemegang saham PT Montreal Refinery Petrochemical Indonesia (MRPI) proyek Tanjung Api Api Sumsel terdiri dari PT ABINTARA (PMDN) 5 persen, Montreal Energy Hongkong 95 persen.

Sementara untuk, Pemegang Saham Montreal Energy sendiri ada Synfuels China 80 persen dan Investor Hongkong 20 persen.

“Kita seratus persen swasta murni. Minta dukungan ke masyarakat Sumsel agar gas selama ini dari Sumsel dijual ke Singapura agar tahun depan jangan dijual lagi, karena ini kan membuka lapangan kerja,” tutur Sunarto.

“Kita akan bikin pabrik di sini. Memproses gas itu menjadi bahan bakar minyak dan menjadi petrokimia dan sampai turunannya. Sampai baju, plastik, bahan baku obat,” tambah Sunarto.

ITAKIMO Konten Kreator Inspiratif yang Sudah Go Internasional

Lebih jauh, Sunarto menjelaskan kalau ini beres, tahun depan pihaknya sudah siap pancang di laut, bangunannya satu kilometer dari darat untuk area, bisa semaksimal mungkin.

“Tapi kalau pabrik itu kita sudah buffer zone (zona penyangga) kalau produknya nanti petrokimia ini macam-macam. Antara lain BBM, euro5, kalau sekarang itu standar turbo pemasaran kami serahkan kepada Pertamina dengan sistem pembayaran konsinyasi,” jelasnya,” ucap Sunarto.

Diterangkan Sunarto, gas ini harus tepat jumlah, tepat waktu, tepat sasaran Sumsel cadangan gasnya cukup besar cuma belum dieksplorasi dan diproduksi. Ia menyebut 50 tahun cadangan gas ini tidak akan habis sehingga berencana bakal menginvestasikan lima kali lebih besar dari Bontang.

“Di Sumsel saat ini 400 mm per hari ke Singapura sudah hampir lebih dari 20 tahun. Kontrak September 2023 ini habis. Berapa banyak gasnya, kita bangun. Kita bikin kotamadya sendiri itu. Kita ingin membangun Sumsel. Kalau soal cadangan gas, Natuna, Aceh juga besar,” ujarnya.

“Sumsel merupakan industri kota baru pilihan utama. Papua, Lhokseumawe dan Sabang Aceh, Kalimantan Utara dan Tengah kita fokus di Sumsel kita bikin industri kota baru bisa dibayangkan berapa banyak tenaga kerja yang akan terlibat di Sumsel ini izin-izin sudah keluar, tinggal lagi minta dukungan,” ujarnya lagi.

Sekedari informasi, PT Montreal Refinery Petrochemical Indonesia (MRPI) proyek Tanjung Api Api Sumsel nantinya akan menghasilkan BBM kepada Pertamina/PGN dengan sistem pembayaran konsinyasi dengan mata uang rupiah atau RMB. Keuntungannya harga lebih murah daripada harga impor.

Sumber gas untuk bahan baku dari lapangan gas yang ada di Indonesia diharapkan kerjasama dengan PGN/Pertamina sebagai transporter gas melalui pipa PGN juga bisa sebagai trader gasnya.

Pola pembiayaan investasi dan pembangunan, selama masa pembangunan kontraktor pelaksana diberikan Bank Garansi dari Bank HSBC Shanghai, Bank Garansi bisa dicairkan.

Sebagai jaminan modal kerja sampai 90 persen dari nilai Bank Garansinya dari Bank yang sama dengan Bank penerbit, tanpa ada jaminan tambahan. Pencairan dana dengan jaminan Bank Garansi berdasarkan progres pekerjaan yang sudah dikerjakan. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button