BeritaNasional

Selamat Hari Guru Tantangan Guru mendidik di Era Merdeka Belajar

PASURUAN(penaindonesia.net) – Peringatan Hari Guru diperingati pada setiap tanggal 25 bulan november merupakan momentum yang bersejarah. Pada hari itu guru di ingat oleh murid dan menjadikan kenangan saat di sekolah.

Tantangan guru diera milenial ini sangat berat, karena para generasi millenial memilih membaca menggunakan handphone dari pada membaca buku.

Ada beberapa tantangan yang harus di hadapi guru antara lain : pertama siswa kurang semangat belajar ketika belajar. Ini imbas dari saat pembelajaran di era wabah virus pandemik. Covid 19 yang lalu yang menggunakan daring. Kedua Seringnya menggunakan handphone yang tidak di manfaatkan sebagaimana mestinya, sehingga banyak perilaku generasi milenial mudah bergaul dari segala lapisan masyarakat. Seharusnya belum waktu perilaku itu ditiru tetapi setelah mengenal teknologi melalui handphone akan mudah menirunya. Ketiga Akhlak kesopanan dan kepatuhan dan perilaku disiplin sudah mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Inilah yang menjadi tantangan guru di era milenial merdeka belajar. Keempat : ketika guru ingin pilih menegakan kedisiplinan dianggap bertentangan denan HAM (Hak Asasi Manusia) atau akhlak generasi penerus kita ini akan rusak.

Dari masalah tantangan guru di atas

Masyarakat yang belum memahami arti sebuah pendidikan apabila di sekolah ada penegakan hukuman disiplin , misalkan menjewer, memukul ini dianggap kekerasan padahal itu sebagai sok terapi agar anak didik bisa disiplin agar kelak menjadi anak yang baik. Tetapi anggapan orang tua itu melanggar ham tetapi ketika HAM melihat akhlak generasi kita rusak tidak pernah berbuat apa apa.

Inilah tantangan peran Pendidik sebagai guru bingung harus memulai dari mana untuk mendidik anak bangsa ini.

ITAKIMO Konten Kreator Inspiratif yang Sudah Go Internasional

Contoh ada berita di sebuah media jawa pos group memberikan informasi peristiwa yang sangat berharga bagi masyarakat. Ada orang tua / wali murid yang melaporkan guru saat mendidik disekolah gara-gara mendisiplinkan siswa yakni menjewer kemudian berurusan dengan pihak berwajib. Hal ini belum tahu arti sebuah pendidikan yang bermakna.

Ada peristiwa di suatu persidangan ada seorang Hakim membebaskan terdakwa atas tuduhan menjewer telinga si murid dan kasusnya berlanjut sampai persidangan. Saat sidang seorang Hakim memutus bebas terdakwa sehingga mengejutkan semua orang di ruang sidang. Beliau membebaskan terdakwa kemudian meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa.

Terdakwa adalah seorang guru Sekolah Dasar itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut keterkejutan itu, sang hakim mengatakan, “Inilah balasan yang harus kulakukan sebagai rasa terima kasihku kepadamu, Guru.” kata hakim.

Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu Sekolah Dasar dan hingga kini ia masih mengajar di Sekolah tersebut. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul salah seorang siswanya. Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya.

Hakim yang dulu menjadi murid dari guru tersebut mengerti benar, pukulan dari guru itu bukanlah kekerasan. Pukulan itu tidak menyebabkan sakit dan tidak melukai.

*Hanya sebuah pukulan ringan untuk membuat murid-murid mengerti akhlak dan menjadi lebih disiplin.

Pukulan seperti itulah yang mengantarnya menjadi hakim seperti sekarang.

Dulu, saat kita “nakal” atau tidak disiplin, guru biasa menghukum kita. Bahkan mungkin pernah “memukul” kita. Saat kita mengadu kepada orang tua, mereka lalu menasehati agar kita berubah. Hampir tidak ada orang tua yang menyalahkan guru karena mereka percaya, itu adalah bagian dari proses pendidikan yang harus kita jalani. Buahnya, kita menjadi mengerti sopan santun, memahami adab, menjadi lebih disiplin. Kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang hormat kepada guru dan orang tua.

Lalu saat kita menjadi orang tua di zaman sekarang… tidak sedikit berita orang tua melaporkan guru karena telah mencubit atau menghukum anaknya di sekolah. Hingga menjadi sebuah fenomena, seperti ini telah terjadi di kabupaten Pasuruan jatim, seorang guru mengingatkan dengan mengibaskan kertas mengenai ke wajahnya siswa. Saat itu dia pulang melaporkan peristiwa itu ke polisi. Karena orang tua seorang pejabat desa dia melaporkan guru tersebut. Dengan peristiwa itu saat ini guru-guru terkesan membiarkan siswanya yang melakukan pelanggaran. Sehingga guru saat ini hanya menjalankan Fungsi mereka tinggal mengajar saja; menyampaikan pelajaran, selesai. Bukan mendidik. Inilah efek dari tuntutan dari orang tua yang tidak tahu Fungsi pendidikan . Dari itu fungsi pendidikan rohnya sudah hilang karena tidak adanya kerjasama antara guru, orang tua dan masyarakat.

Jangan salahkan guru jika murid sekarang kurang mengerti akhlak dan hasil pendidikannya tidak seperti yang diharapkan orang tua.Bukannya tidak mau mendidik muridnya lebih baik, mereka takut dilaporkan oleh walimurid seperti yang dialami teman-temannya. Ada beberapa berita di media, guru di laporkan ke polisi oleh wali murid hingga harus berurusan dengan polisi, tidak heran jika guru ada yang di sel karena alasan kekerasan. Contoh di bantaeng guru disel….di jawa tengah guru sekolah Dasar mencubit siswanya dipidanakan…semuanya atas nama HAM…undang-undang perlindungan Anak.tapi ketika moralitas hancur akhlak generasi bobrok pernahkan HAM dan dedengkotnya membuat aksi nyata menuntut perbaikan moral & akhlak anak bangsa ini ?

Semoga tulisan ini, di hari guru ini jadikan renungan bagi kita para orangtua atau walimurid, bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan guru dengan wali murid dan lembaga yang lain. Guru bersinergi dengan masyarakat untuk menyiapkan sebuah generasi masa depan dengan gemilang , Bukan hubungan atas dasar transaksi yang rentan lapor-melaporkan.

Jika ingin mendidik anak dengan baik mulailah dari pendidikan di rumah. Pendidikan di rumah diawali dengan menerapkan Akhlakul Karimah mendidik dengan menerapkan Budi pekerti unggah unggoh istilah Jawa, melaksanakan ibadah sholat lima waktu bagi umat muslim dan agama lain bisa menyesuaikan .tidak ada agama yang mengajarkan kejelekan pasti menuntun kebaikan.

Kedua menerapkan disiplin ketika di rumah akan menjadi bekal ketika diterapkan di lembaga pendidikan .membiasakan disiplin bangun pagi dan menjalankan ibadah sholat subuh dan membersihkan lingkungan rumah.

Ketiga ajarkan ilmu akuntansi dan belajar hidup hemat agar suatu saat masih mempunyai bekal untuk hidup di kemudian. Kebutuhan hidup terus bertambah jika mengikuti gaya hidup dan selera . Hidup perlu menyeimbangkan antara pendapatan dan pengeluaran. Hal ini perlu di ajarkan kepada anak didik agar mereka hidup hemat karena besok masih ada hari esok .

Keempat ajarkan ilmu teknologi kenal anak anak pada tehnologi.mulai sejak dini ajarkan mereka ilmu teknologi dengan baik dan benar Jangan sampai mereka tidak tahu teknologi sehingga ketinggalan informasi. Banyak penggunakan ilmu teknologi yang ngawur karena tidak punya cara menggunakan dan menerapkannya. Sehingga menggunakan se enaknya tanpa mengetahui rambu rambu nya . Ada UU IT teknologi yang mengaturnya. Ajarkan cara menggunakan ilmu teknologi yang ber akhlaq dan beretika. Semoga mereka tahu pentingnya berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.

Dengan bebasnya teknologi orang tua wali murid perlu waspada jika di rumah. Handphone perlu di kontrol sesekali untuk mengecek status yang di unggah di handphone.

Uraian diatas Bukan maksud mencari pembenaran

Tapi hanya membuka fakta disebuah traspormasi pendidikan untuk perbaikan akhlaq budipekerti menuju generasi emas penerus bangsa menuju Indonesia merdeka belajar. Yang Berjaya dan Berdaulat.(red)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button