{"id":14261,"date":"2026-04-19T12:08:41","date_gmt":"2026-04-19T12:08:41","guid":{"rendered":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/?p=14261"},"modified":"2026-04-19T12:10:40","modified_gmt":"2026-04-19T12:10:40","slug":"jelang-hardiknas-kang-subari-guru-kreatif-asal-kraton-pasuruan-produktif-lahirkan-karya-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/2026\/04\/19\/jelang-hardiknas-kang-subari-guru-kreatif-asal-kraton-pasuruan-produktif-lahirkan-karya-pendidikan\/","title":{"rendered":"Jelang Hardiknas, Kang Subari Guru Kreatif Asal Kraton Pasuruan Produktif Lahirkan Karya Pendidikan"},"content":{"rendered":"<p>Pasuruan(penaindonesia.net) &#8211; Minggu 19 April 2026, Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei mendatang, sosok guru kreatif asal Desa Kraton, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini mencuri perhatian. Kang Subari, begitu ia akrab disapa, berhasil menuntaskan dua buku pendidikan hanya dalam waktu dua bulan.<\/p>\n<p>Dua buku tersebut berjudul _Manajemen Pendidikan Berbasis Cinta dan Kasih Sayang_ dan _Tantangan Guru di Era Digitalisasi: Satu Guru Satu Inovasi_. Kedua karya ini ditulis di sela kesibukannya mengajar dan melanjutkan studi. \u201cSaya percaya guru tidak boleh berhenti belajar dan berkarya. Menulis adalah bentuk ikhtiar mengabadikan gagasan agar manfaatnya lebih luas,\u201d ujar Kang Subari, Jumat (18\/4).<\/p>\n<p>*Menulis Disertasi tentang Kurikulum Berbasis Cinta*<\/p>\n<p>Tidak hanya buku, Kang Subari saat ini juga tengah merampungkan disertasi di Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto, Jawa Timur, tempat ia tercatat sebagai mahasiswa program doktoral. Disertasinya mengangkat tema _Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Berbasis Cinta di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur_.<\/p>\n<p>Penelitian tersebut dilatarbelakangi keprihatinannya terhadap model pendidikan yang kerap kering dari nilai kasih sayang. Melalui riset lapangan di sejumlah sekolah dan madrasah di Pasuruan, ia memotret bagaimana pendekatan cinta mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan membangun relasi positif antara guru dan murid.<\/p>\n<p>*Mengusung Semangat &#8220;Satu Guru Satu Inovasi&#8221;*<\/p>\n<p>Dalam buku keduanya, Kang Subari mendorong para pendidik agar tidak takut berinovasi di tengah derasnya arus digitalisasi. Ia memperkenalkan gagasan \u201cSatu Guru Satu Inovasi\u201d sebagai gerakan agar setiap guru memiliki minimal satu karya atau metode baru yang bisa dibagikan.<\/p>\n<p>\u201cDigitalisasi bukan ancaman, tapi peluang. Guru harus jadi kreator, bukan hanya pengguna. Kalau setiap guru punya satu inovasi, maka pendidikan kita akan bergerak cepat,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>*Kiprah di Desa dan Kampus*<\/p>\n<p>Meski aktif menulis dan kuliah, Kang Subari tetap konsisten mengajar di desanya. Ia dikenal sebagai guru yang dekat dengan siswa dan sering mengadakan pelatihan menulis untuk guru-guru muda di Kecamatan Kraton. Rekan sesama guru menyebutnya sebagai penggerak literasi yang rendah hati.<\/p>\n<p>Menjelang Hardiknas tahun ini, Kang Subari berharap karyanya bisa menjadi kado kecil untuk dunia pendidikan. \u201cKalau kita mengajar dengan cinta, mendidik dengan kasih sayang, dan berani berinovasi, Insya Allah pendidikan Indonesia akan semakin maju,\u201d tutupnya.<\/p>\n<p>Kiprah Kang Subari menjadi bukti bahwa semangat Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremonial, tetapi wujud nyata dari dedikasi seorang guru yang terus berkarya dari desa untuk Indonesia.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasuruan(penaindonesia.net) &#8211; Minggu 19 April 2026, Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei mendatang, sosok guru kreatif asal Desa Kraton, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini mencuri perhatian. Kang Subari, begitu ia akrab disapa, berhasil menuntaskan dua buku pendidikan hanya dalam waktu dua bulan. Dua buku tersebut berjudul _Manajemen Pendidikan Berbasis Cinta dan Kasih &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":14264,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[939,195],"tags":[],"class_list":["post-14261","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14261","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14261"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14261\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14263,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14261\/revisions\/14263"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14264"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}