{"id":14301,"date":"2026-04-26T12:51:59","date_gmt":"2026-04-26T12:51:59","guid":{"rendered":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/?p=14301"},"modified":"2026-04-26T12:51:59","modified_gmt":"2026-04-26T12:51:59","slug":"saat-guru-tak-lagi-digugu-dan-ditiru-mendidik-murid-yang-kehilangan-adab-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/2026\/04\/26\/saat-guru-tak-lagi-digugu-dan-ditiru-mendidik-murid-yang-kehilangan-adab-di-era-digital\/","title":{"rendered":"Saat Guru Tak Lagi Digugu dan Ditiru, Mendidik Murid yang Kehilangan Adab di Era Digital."},"content":{"rendered":"<p>PASURUAN(penaindonesia.net) &#8211; Kita tidak bisa menutup mata. Hari ini banyak guru mengeluh:<\/p>\n<p>&#8220;Siswa sekarang berani menjawab guru dengan nada tinggi&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Ditegur malah bikin konten TikTok melecehkan guru&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Tugas tidak dikerjakan, tapi menuntut nilai bagus&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Viral kasus siswa tantang guru berkelahi, pukul guru, bahkan laporkan guru ke polisi karena ditegur&#8221;<\/p>\n<p>Data KPAI 2024 mencatat 1.234 kasus kekerasan di satuan pendidikan, 40% di antaranya siswa ke guru. Bukan hanya fisik, tapi verbal, cyberbullying, dan pelecehan martabat guru.<\/p>\n<p>Akar masalahnya kompleks,<\/p>\n<p>1. Krisis Keteladanan : Anak lebih dekat dengan influencer daripada orang tua\/guru.<\/p>\n<p>2.Disrupsi Digital Algoritma medsos mengajarkan &#8220;viral = benar&#8221;, bukan adab.<\/p>\n<p>3.Salah Kaprah HAM Anak*: Perlindungan anak diartikan &#8220;anak tidak boleh disalahkan&#8221;.<\/p>\n<p>4.Lunturnya Budaya tata krama ala pondok Pesantren\/Madrasah: Berkah ilmu karena adab\u201d mulai ditinggalkan.<\/p>\n<p>5.Lingkungan Keluarga: Orang tua membela anak membabi buta saat anak ditegur guru.<\/p>\n<p>Akibatnya: guru takut mendidik, murid merasa kebal hukum. Sekolah kehilangan wibawa, ilmu kehilangan berkah. 2. Bagaimana Sikap Kita Sebagai Pendidik?<\/p>\n<p>Menghadapi murid yang tidak hormat, guru tidak boleh memilih 2 jalan ekstrem, otoriter yang menakutkan atau permisif yang membiarkan Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta dan Kasih Sayang menawarkan jalan tengas, Tegas dalam Prinsip, Lembut dalam Pendekatan,<\/p>\n<p>Sikap yang harus diambil pendidik:<\/p>\n<p>Sikap Salah Sikap Benar ala Kurikulum Cinta, Marah &amp; Menghukum Fisik, Tegur dengan Wibawa + Dialog: Pisahkan perilaku dari pribadi. &#8220;Bapak kecewa dengan perbuatanmu, bukan dengan dirimu.&#8221;<\/p>\n<p>Diam Membiarkan, Konsisten Terapkan Konsekuensi Edukatif, Bukan hukuman, tapi tanggungjawab.<\/p>\n<p>Baper &amp; Curhat di Medsos, Jaga Marwah Guru, Selesaikan di sekolah. Libatkan BK, wali kelas, orang tua.<\/p>\n<p>Menyamaratakan Semua Murid Nakal, Bedah Akar Masalah, Apakah dia korban broken home? Kecanduan game? Cari dulu, baru obati.<\/p>\n<p>Mengajar Hanya Transfer Ilmu Mengajar = Mendidik 10 menit pertama setiap mapel untuk &#8220;kultum adab&#8221;.<\/p>\n<p>Prinsip kurikulum Cinta untuk Murid yang Tidak Hormat,<\/p>\n<p>*Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun, Sayang, Sabar. Tapi jika 7S dilanggar, ada S-8: Sanksi Edukatif.<\/p>\n<p>3. Adakah Kesepakatan Pendekatan dari Kementerian Pendidikan?<\/p>\n<p>Jawabannya: Ada. Kementerian tidak diam. Ada 3 payung hukum &amp; kebijakan yang bisa jadi pegangan agar murid jera tapi tidak dilecehkan, dan guru terlindungi:<\/p>\n<p>a.Permendikbud ristek No. 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan &amp; Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP)<\/p>\n<p>&#8211; Sekolah wajib bentuk TPPK &amp; Satgas. Kekerasan verbal\/psikis ke guru termasuk pelanggaran.<\/p>\n<p>Sanksi untuk murid, Teguran lisan, tertulis, tindakan edukatif, skorsing, hingga dikembalikan ke ortu. Bukan penjara, tapi pembinaan.<\/p>\n<p>Perlindungan guru, Guru yang mendisiplinkan sesuai SOP tidak bisa dipidanakan. Ini jawaban atas kriminalisasi guru.<\/p>\n<p>b. PMA No. 73 Tahun 2023 tentang Pencegahan &amp; Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan:<\/p>\n<p>Mengatur juga pelecehan verbal &amp; non-fisik. Siswa yang melecehkan guru bisa dikenai sanksi.<\/p>\n<p>c. Gerakan &#8220;Sekolah Penggerak&#8221; &amp; &#8220;Profil Pelajar Pancasila&#8221;*<\/p>\n<p>Dimensi Berakhlak Mulia: Ada elemen &#8220;akhlak kepada manusia&#8221;, termasuk guru. Ini wajib dinilai di rapor.<\/p>\n<p>Budaya Positif: Mengganti hukuman dengan &#8220;keyakinan kelas&#8221; dan &#8220;segitiga restitusi&#8221;. Murid yang melanggar diajak memperbaiki kesalahan, bukan dihukum. Tujuannya jera karena sadar, bukan karena takut.<\/p>\n<p>Jadi, kesepakatannya jelas: Kementerian mendorong Restorative Justice,, bukan Punitive Justice. Tujuannya bukan membuat jera dengan menakuti, tapi jera karena tumbuh kesadaran 4. Strategi Praktis yang Bisa Diterapkan di Sekolah\/Madrasah.<\/p>\n<p>Lalu, bagaimana agar murid jera dan tidak melecehkan guru? Berikut Ini ada 5 langkah konkret sesuai aturan Kemendikbud Kurikulum Cinta, 1. Buat &#8220;Kontrak Adab Kelas&#8221; di Awal Semester<\/p>\n<p>Libatkan murid menyusun. Isi: &#8220;Kami sepakat hormat guru. Jika melanggar, kami siap: 1) Minta maaf di depan kelas, 2) Jadi MC upacara 1x, 3) Hafal 1 hadits tentang adab.&#8221; Ditempel, dibaca tiap Senin. Ini sesuai Budaya Positif.<\/p>\n<p>2.Terapkan Segitiga Restitusi saat Pelanggaran. Langkah 1: Stabilkan Identitas &#8220;Kamu anak baik, kok bisa bilang begitu?&#8221;<\/p>\n<p>Langkah 2: Validasi Tindakan Salah &#8220;Ucapanmu tadi menyakiti hati Ibu.&#8221;<\/p>\n<p>Langkah 3: Tanya Keyakinan &#8220;Kamu orang seperti apa? Apa yang bisa kamu lakukan untuk perbaiki?&#8221;<\/p>\n<p>Murid jadi jera karena merasa bersalah, bukan karena dihukum.<\/p>\n<p>3.Aktifkan TPPK &amp; Libatkan Orang Tua Sejak Dini.<\/p>\n<p>Jangan tunggu viral. 1x melanggar, panggil ortu. Tunjukkan rekaman CCTV\/SS chat. Minta ortu tanda tangan &#8220;Komitmen Pembinaan&#8221;. Ini dasar hukum kuat jika kasus berulang.<\/p>\n<p>4.Program &#8220;Guru Idolaku&#8221; &amp; &#8220;Jumat Cinta Guru&#8221; Setiap Jumat, 1 siswa cerita kebaikan gurunya di depan kelas. Yang pernah melecehkan guru, wajib jadi yang pertama cerita. Ini sanksi edukatif yang menyentuh hati.<\/p>\n<p>5.Laporkan Jika Sudah Keterlaluan.<\/p>\n<p>Jika ada pemukulan, ancaman pembunuhan, atau pelecehan seksual ke guru, gunakan UU Perlindungan Guru &amp; PPKSP. Guru dilindungi hukum. Jera terbaik adalah proses hukum yang mendidik.<\/p>\n<p>5. Kembalikan Marwah Guru dengan Cinta, Bukan Benci*<\/p>\n<p>Murid tidak hormat bukan untuk dimusuhi, tapi untuk diselamatkan. Mereka korban zaman, bukan murni pelaku. Tugas kita bukan membuat mereka takut, tapi membuat mereka sadar.<\/p>\n<p>Pepatah Arab: &#8220;Al-adabu fauqal ilmi&#8221;Adab di atas ilmu.<\/p>\n<p>Ilmu tanpa adab = malapetaka. Adab tanpa ilmu = lumpuh. Keduanya harus jalan.<\/p>\n<p>Mari kembalikan budaya: &#8220;Guru kencing berdiri, murid kencing berlari&#8221; bukan dalam arti takut, tapi dalam arti guru memberi teladan, murid mengejar keteladanan.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PASURUAN(penaindonesia.net) &#8211; Kita tidak bisa menutup mata. Hari ini banyak guru mengeluh: &#8220;Siswa sekarang berani menjawab guru dengan nada tinggi&#8221; &#8220;Ditegur malah bikin konten TikTok melecehkan guru&#8221; &#8220;Tugas tidak dikerjakan, tapi menuntut nilai bagus&#8221; &#8220;Viral kasus siswa tantang guru berkelahi, pukul guru, bahkan laporkan guru ke polisi karena ditegur&#8221; Data KPAI 2024 mencatat 1.234 kasus &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":14302,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[939,195],"tags":[],"class_list":["post-14301","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14301","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14301"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14301\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14303,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14301\/revisions\/14303"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14302"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14301"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14301"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14301"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}