{"id":532,"date":"2022-05-08T10:23:25","date_gmt":"2022-05-08T10:23:25","guid":{"rendered":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/?p=532"},"modified":"2022-05-08T11:13:52","modified_gmt":"2022-05-08T11:13:52","slug":"makna-ketuat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/2022\/05\/08\/makna-ketuat\/","title":{"rendered":"Makna ketupat di hari Raya idul Fitri"},"content":{"rendered":"<p>Tradisi KUPATAN sudah menjadi bagian yang lekat dan tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia khususnya orang jawa.<\/p>\n<p>Dalam tradisi kupatan tersebut membuat ketupat .Makna ketupat, dalam Bahasa Jawa, disebut kupat. Kata kupat berasal dari suku kata ku=ngaku (mengakui) dan pat=lepat (kesalahan). Sehingga ketupat menjadi simbol mengakui kesalahan.<\/p>\n<p>Tradisi kupatan kemudian memperoleh sentuhan baru di zaman penyebaran Islam oleh Walisongo di dalam kerangka untuk menghadirkan tradisi yang akulturatif di dalam masyarakat Jawa dan Nusantara pada umumnya.<\/p>\n<p>Lalu sebenarnya KUPATAN ini artinya apa\u2026.?Dari sisi bahasa, Kupatan (Bahasa Jawa) kiranya berasal dari kata Kaffatan (Bahasa Arab) yang memperoleh perubahan bunyi dalam ucapan Jawa menjadi kupatan.Hal ini Sama dengan asal kata barakah (bahasa Arab) menjadi berkat (Bahasa Jawa) atau salama (Bahasa Arab) menjadi selamet (Bahasa Jawa).<\/p>\n<p>Dengan demikian secara istilah, dapat dinyatakan bahwa kupatan adalah simbol dari berakhirnya bulan puasa dan menandai terhadap kesempurnaan atau kaffatan di dalam kehidupan individu dan masyarakat. Jadi tradisi kupatan sebagai penanda terhadap keislaman manusia yang sudah sempurna.<\/p>\n<p>Maka, kupatan adalah simbol seseorang yang sudah memasuki Islam secara sempurna. Hal ini ditandai diantaranya :<\/p>\n<p>\u2013 Sudah melaksanakan puasa secara penuh di bulan ramadhan<\/p>\n<p>\u2013 Melaksanakan zakat<\/p>\n<p>\u2013 Hablum minannas yang harmonis dalam wujud saling silaturrahmi untuk meminta maaf kepada sesama manusia.<\/p>\n<p>Dengan hal ini berarti juga dengan saling berbagi ketupat pada hakikatnya saling memaafkan segala kesalahan dan melimpahkan kebaikan sesama.<\/p>\n<p>Selain itu perlu juga diketahui bahwa Ketupat atau kupat, juga bermakna laku papat artinya empat tindakan.<\/p>\n<p>Sedangkan Untuk istilah laku papat (empat tindakan), masyarakat Jawa mengartikanya dengan empat istilah, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan.<\/p>\n<p>\u2013 Lebaran berarti akhir dan usai, yaitu menandakan telah berakhirnya waktu puasa Ramadhan dan siap menyongsong hari kemenangan.<\/p>\n<p>\u2013 Luberan bermakna melimpah. Pesan moral yang hendak disampaikan dari luberan adalah budaya mau berbagi dan mengeluarkan sebagian harta yang lebih (luber) kepada fakir miskin.<\/p>\n<p>\u2013 Leburan berarti melebur. Yakni momen untuk saling melebur dosa dengan saling memaafkan satu sama lain,<\/p>\n<p>\u2013 Laburan yang berasal dari kata labur atau kapur. Kapur.Dari ini Laburan dipahami bahwa hati seorang muslim haruslah kembali jernih nan putih layaknya sebuah kapur. Karena itu merupakan simbol kejernihan dan kesucian hati yang sebenarnya.<\/p>\n<p>Dengan demikian pesan moral yang hendak disampaikan dengan tradisi KUPATAN kepada umat Islam untuk menjadi pribadi yang baik dan luhur .<\/p>\n<p>Tradisi KUPATAN merupakan tradisi baik yang telah lama mengakar kuat dalam masyarakat dan harapanya tradisi yang telah lama terjaga ini tetap bisa dilestarikan, dengan begitu mampu menjadi salah satu budaya keislaman .<\/p>\n<p>Penulis : Gus Arif Rohman, H<\/p>\n<p>PP APITA NURUSSALAM, Candipuro, Lumajang<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tradisi KUPATAN sudah menjadi bagian yang lekat dan tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia khususnya orang jawa. Dalam tradisi kupatan tersebut membuat ketupat .Makna ketupat, dalam Bahasa Jawa, disebut kupat. Kata kupat berasal dari suku kata ku=ngaku (mengakui) dan pat=lepat (kesalahan). Sehingga ketupat menjadi simbol mengakui kesalahan. Tradisi kupatan kemudian memperoleh sentuhan baru di zaman &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":475,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[63],"class_list":["post-532","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-makna-ketupat-di-hari-raya-idul-fitri"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/532","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=532"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/532\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":537,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/532\/revisions\/537"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/475"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=532"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=532"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=532"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}