{"id":6696,"date":"2023-03-11T08:01:25","date_gmt":"2023-03-11T08:01:25","guid":{"rendered":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/?p=6696"},"modified":"2023-03-11T08:01:25","modified_gmt":"2023-03-11T08:01:25","slug":"tingkatkan-layanan-kesehatan-lanyalla-dukung-pendirian-fakultas-kedokteran-di-jatim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/2023\/03\/11\/tingkatkan-layanan-kesehatan-lanyalla-dukung-pendirian-fakultas-kedokteran-di-jatim\/","title":{"rendered":"Tingkatkan Layanan Kesehatan, LaNyalla Dukung Pendirian Fakultas Kedokteran di Jatim"},"content":{"rendered":"<p>SURABAYA II PENAINDONESIA. NET \u2013 Beberapa universitas di Jawa Timur sedang mengajukan proses pembukaan Fakultas Kedokteran. Upaya itu didukung penuh oleh Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.<\/p>\n<p>Menurutnya, pembukaan program studi Kedokteran memberi solusi terhadap rasio kekurangan dokter, serta mampu meningkatkan standar pelayanan kesehatan bagi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cTidak hanya di Jatim. Kebutuhan profesi tenaga dokter di Indonesia sangat tinggi. Kondisi ini memang harus dijawab oleh Kemenkes dan Kemendikbud Ristek untuk menambah SDM dokter. Caranya dengan memperbanyak fakultas kedokteran,\u201d kata LaNyalla di sela reses di Jawa Timur, Sabtu (11\/3\/2023).<\/p>\n<p>LaNyalla mengingatkan agar universitas yang akan membuka program studi Kedokteran mempersiapkan segala hal dengan baik.<\/p>\n<p>\u201cTenaga pengajar, infrastruktur dan fasilitas yang menunjang proses belajar harus mengikuti standar yang sudah ditentukan. Hal ini perlu demi pembaharuan dan peningkatan kualitas lulusan dokter sehingga lebih kompetitif,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Satu hal lagi yang perlu dipikirkan, kata LaNyalla, adalah skema biaya studi yang bisa terjangkau. Sebab bukan rahasia lagi, selain susah masuk, Fakultas Kedokteran juga dikenal berbiaya studi mahal.<\/p>\n<p>\u201cSoal pendanaan bagi calon dokter tidak boleh dikesampingkan. Perlu normalisasi biaya supaya banyak mahasiswa yang bisa masuk fakultas kedokteran. Juga agar dokter umum banyak yang kemudian mengambil spesialisasi,\u201d tukas pria berdarah Bugis itu.<\/p>\n<p>\u201cKondisi memang tak ideal, fakta yang kita saksikan hari ini kekurangan tenaga dokter di RS daerah-daerah sangat terasa. Ini tentunya berdampak pada minimnya akses dan pelayanan kesehatan. Untuk itu dalam satu dekade ke depan kita memerlukan banyak tenaga dokter,\u201d ujar dia.<\/p>\n<p>Kebutuhan profesi tenaga kedokteran di Jatim cukup tinggi dan kekurangan. Sebab 27.897 dokter untuk melayani 41 juta orang.<\/p>\n<p>Sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) rasio dokter umum dan penduduk idealnya 1:1000. Sedangkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 2020, rasio dokter umum di Indonesia 1:1400 penduduk, dan itu pun persebarannya tidak merata.<\/p>\n<p>Menurut LaNyalla, pemerintah sebaiknya berkaca pada kasus Covid-19 saat terjadi lonjakan, dimana dokter dan tenaga kesehatan kewalahan menghadapi pasien.<\/p>\n<p>\u201cKalau tidak dipersiapkan sejak sekarang kondisi ini akan lebih parah dan kita bisa memasuki masa defisit dokter dan kolapsnya pelayanan kesehatan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu beberapa universitas di Jawa Timur yang mengajukan pembukaan Fakultas Kedokteran antara lain Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, UIDA Gontor, Universitas Bhakti Wiyata, Universitas Darul Ulum Jombang, Universitas Negeri Surabaya dan UPN Veteran Jatim.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA II PENAINDONESIA. NET \u2013 Beberapa universitas di Jawa Timur sedang mengajukan proses pembukaan Fakultas Kedokteran. Upaya itu didukung penuh oleh Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Menurutnya, pembukaan program studi Kedokteran memberi solusi terhadap rasio kekurangan dokter, serta mampu meningkatkan standar pelayanan kesehatan bagi masyarakat. \u201cTidak hanya di Jatim. Kebutuhan profesi tenaga dokter &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":6697,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[195,1137,117],"tags":[],"class_list":["post-6696","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-dpd-ri","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6696","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6696"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6696\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6698,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6696\/revisions\/6698"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6697"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6696"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6696"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6696"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}