{"id":9045,"date":"2023-09-07T03:10:46","date_gmt":"2023-09-07T03:10:46","guid":{"rendered":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/?p=9045"},"modified":"2023-09-07T03:10:46","modified_gmt":"2023-09-07T03:10:46","slug":"fenomena-mencuci-black-dollar-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/2023\/09\/07\/fenomena-mencuci-black-dollar-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Fenomena Mencuci Black Dollar di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>PENAINDONESIA.NET &#8211; DI Indonesia, \u2018black dollar\u2019 boleh dibilang sebuah fenomena \u2018gunung es\u2019. Banyak kasus, sedikit yang terendus. Apa, siapa, bagaimana, dan mengapa \u2018black dollar\u2019, hingga kini masih diselimuti misteri.<\/p>\n<p>Diberi nama \u2018black dollar\u2019 sebab wujudnya memang berupa potongan kertas warna hitam seukuran uang dolar AS. Sepintas sih tidak ada harganya. Cuman kertas. Tetapi melalui proses kimia, kertas hitam itu berubah menjadi lembaran mata uang dolar AS pecahan 100 dolar!<\/p>\n<p>Saya menyaksikan proses kimiawi mendolarkan kertas hitam tersebut pada 10 tahun lalu. Beruntung pula saya diperbolehkan merekam pakai handphone. Di video rekaman terlihat cara manual mencuci kertas hitam. Mirip mencuci film dan mencetak foto di kamar gelap masa-masa dulu sekali, sebelum digitalisasi melibas semuanya. Video yang saya lampirkan sengaja saya potong-potong. Durasinya satu jam kalau saya sajikan utuh.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Cerita ini berawal ketika suatu siang saya dihubungi seorang teman pengusaha yang berencana membeli \u2018black dollar\u2019 dari pria \u2018asing\u2019. Dia mengemukakan keraguannya, tapi sekaligus penasaran setelah mendapat tawaran menggoda itu. Maka dia meminta saya menemaninya untuk sama-sama menyaksikan \u2018demo\u2019 yang akan diperlihatkan oleh si penjual.<\/p>\n<p>\u201cIni bisnis, Mas Dar. Kalau memang bener dan berhasil, nanti Mas Dar saya ajak ke showroom mobil, silakan tunjuk mobil yang diinginkan, saya yang bayar,\u201d kata teman ini, bersemangat. Wiiih \u2026<\/p>\n<p>Kami bertemu dengan si penjual \u2019black dollar\u2019 di sebuah rumah megah berpagar tinggi di kawasan Jakarta Selatan. Rumah yang sepi, tanpa penghuni. Hanya ada seorang penjaga yang mengantar kami menuju lantai dua. Kami disambut pria asing. Tinggi besar dia, berkulit legam, halus tutur katanya, tapi pelit tersenyum. Dengan memasang wajah seserius itu, secara singkat dia menjelaskan proses yang akan dilakukan, ditingkahi sedikit cerita tentang \u2018black dollar\u2019.<\/p>\n<p>Menurut pria yang mengaku beristrikan perempuan Indonesia itu, \u2018black dollar\u2019 adalah uang yang diproduksi khusus untuk distribusikan ke daerah-daerah konflik di berbagai belahan dunia. Terutama di benua Afrika. Strategi agar uang terhindar dari kemungkinan dijarah di tengah jalan dan selamat sampai tujuan. Kalaulah ada yang merampas, mereka toh tidak dapat mengolahnya. Begitu katanya.<\/p>\n<p>Sambil terus berbicara, si pria asing memperlihatkan sebuah koper hitam berisi tumpukan \u2018black dollar\u2019. Dia menyebut satu koper kertas hitam itu kalo dirupiahkan nilainya setara dengan Rp5 miliar (sesuai kurs US$ saat itu). \u201cSaya mau jual Rp2 miliar,\u201d ujarnya datar, seraya mengambil beberapa lembar \u2018black dollar\u2019 dari dalam koper hitam tersebut.<\/p>\n<p>Lembaran \u2018black dollar\u2019 yang diambil, dia taruh di atas meja. Sementara di atas meja sudah ada ember plastik putih berisi air, satu botol sabun cair, piring plastik yang dipenuhi bubuk putih, dan hair dryer (pengering rambut). Di bawah meja teronggok ember biru berisi air bersih. Agaknya barang-barang rumah tangga itu merupakan peralatan untuk memproses dolar hitam.<\/p>\n<p>Sebelum demo dimulai, saya iseng nyeletuk, \u201cBoleh saya rekam pakai handphone?\u201d Dia tak serta merta menjawab. Dia menatap saya lekat-lekat, sebelum akhirnya mengizinkan tapi dengan syarat kamera tidak menyorot ke arah mukanya, dan tidak boleh ada suara percakapan apa pun. Saya mengangguk. Temen saya ngasih \u2018jempol\u2019.<\/p>\n<p>Pria asing itu lantas mematikan sebagian lampu penerangan. Ruangan menjadi remang-remang. Dibantu seseorang, proses mencuci \u2018black dollar\u2019 itu pun dimulai dengan tahapan seperti berikut:<\/p>\n<p>Mula-mula ember putih berisi air bersih yang sudah dicampur sabun cair, diaduk sampai mengeluarkan banyak busa.<\/p>\n<p>Sebuah botol kecil dikeluarkan si pria asing dari saku celananya \u2013saya menduga berisi cairan kimia\u2013 kemudian diteteskan ke dalam ember putih.<\/p>\n<p>Beberapa lembar \u2018black dollar\u2019 dimasukkan ke ember, dibilas pelahan, lalu ditaruh di atas piring dan dilumuri bubuk putih sampai merata.<\/p>\n<p>\u2018Black dollar\u2019 yang berbalut bubuk putih itu dimasukkan lagi ke ember, direndam beberapa saat, kemudian digelar di atas piring bekas bubuk putih. Sudah terlihat ada sebagian warna putih di bagian tepinya.<\/p>\n<p>Lembar-lembar \u2018black dollar\u2019 di atas piring itu lalu disiram cairan dari botol kecil, dan dioles merata. Perlahan\u2026 warna hitam \u2018black dollar\u2019 memudar, memunculkan warna putih. Warna hitamnya seperti terkelupas, hingga akhirnya menjadi lembaran uang pecahan utuh 100 dolar AS bergambar Benyamin Franklin.<\/p>\n<p>Satu persatu kertas hitam yang telah menjadi uang 100 dolar AS dibilas pakai air bersih di ember biru. Dengan hati-hati digosok berulang-ulang agar tak sobek, kemudian ditaruh di atas selembar kertas koran.<\/p>\n<p>Terakhir, uang dolar dikeringkan pakai hair dryer. Saya menyentuh lembaran yang sudah kering, ada sisa-sisa bau seperti belerang, atau, entahlah\u2026 dan nomor seri dolar AS itu berbeda-beda. Ada yang angkanya berurutan. Gak main-main nih, batin saya.<\/p>\n<p>Proses \u2018ajaib\u2019 itu memakan waktu kurang lebih satu jam. Teman saya terlihat terkagum-kagum. Secara seksama dia meneliti lembar demi lembar, sambil sesekali menengok ke arah saya, seolah minta konfirmasi. Saya sendiri masih mencerna, karena dalam benak menggayut begitu banyak pertanyaan.<\/p>\n<p>Percakapan berikutnya antara teman saya dengan pria asing itu adalah \u2018bisnis\u2019. Sayang tak selancar yang diharapkan. Persoalannya ada pada, berapa lama waktu dibutuhkan kalau proses dilakukan secara manual untuk dolar hitam senilai Rp5 miliar? Adakah mesin untuk mempercepat prosesnya? Bagaimana dengan cairan kimia \u2018misterius\u2019 di botol kecil (diketahui kemudian harganya perbotol kecil Rp5 juta) dan bubuk putih itu? Berapa botol yang akan diberikan kepada pembeli? Pendek kata masih banyak masalah yang belum terang betul.<\/p>\n<p>Bagi saya yang terpenting adalah keaslian dolar bergambar Benyamin Franklin itu. Jangan-jangan aspal, atau bahkan palsu?<\/p>\n<p>Meski pertanyaan terpenting ini tak terucap secara eksplisit, agaknya pria asing itu membaca ekspresi kami. Utamanya keraguan saya. Oleh karenanya dia mempersilakan saya membawa beberapa lembar uang dolar hasil proses manual untuk memastikan asli tidaknya. \u201cTukarkan saja ke bank sekalian untuk mengecek,\u201d tukasnya. Betul juga. Saya mengambil tiga lembar.<\/p>\n<p>Sekembali dari rumah megah itu, saya mencoba menggali informasi lebih jauh tentang \u2018black dollar\u2019. Saya \u2018googling\u2019 dengan kata kunci \u2018black dollar\u2019. Ada satu \u2018kasus\u2019 di Surabaya, Jawa Timur. Namun informasinya hanya sepotong tentang penipuan menggunakan dolar hitam. Bukan soal keaslian \u2018black dollar\u2019.<\/p>\n<p>Saya kontak beberapa teman, seorang pengusaha yang paham \u2018dunia hitam\u2019, pengacara senior, dan seorang perwira penyidik di kepolisian. Banyak cerita yang saya dapatkan dari mereka. Dari soal orang-orang yang memburu cairan kimia pencuci dolar hitam, belasan ibu-ibu berduit yang jadi korban di apartemen, sampai soal ada beberapa orang yang mencoba memecahkan rumus cairan kimia pelebur warha hitam \u2018black dollar\u2019. Betapa ini mengindikasikan bahwa bisnis \u2018black dollar\u2019 bukan hal baru bagi sementara orang. Pantas saja tak banyak mencuat ke permukaan. Boleh jadi ini merupakan kegiatan \u2018kejahatan terorganisir\u2019 atau bahkan dalam kendali \u2018organisasi kejahatan\u2019.<\/p>\n<p>Penelusuran singkat saya itu, sudah cukuplah untuk menjadikan teman saya harus mengurungkan niatnya berbisnis \u2018black dollar\u2019. Terlalu besar risikonya. Sekalipun tiga dolar hitam yang saya bawa ternyata bisa ditukarkan di \u2018money changer\u2019 di bank milik pemerintah. Memastikan akan keaslian \u2018black dollar\u2019 tersebut.<\/p>\n<p>Selang tiga hari kemudian beberapa orang tak dikenal menghubungi saya. Entah dari mana mereka dapat informasi. Mereka minta tolong untuk saya membantu menghubungkan mereka dengan penjual cairan kimia pencuci dolar hitam. Berapapun harganya akan mereka bayar. Celaka\u2026.<\/p>\n<p>Sedianya peristiwa transaksi \u2018black dollar\u2019 itu akan saya \u2018publish\u2019 di media tempat saya bekerja sebagai laporan jurnalistik berkedalaman atau investigasi. Saya urungkan. Semata pertimbangan naluri. Saya juga mesti menjaga keamanan teman saya yang tengah didera gelisah saat itu. Begitu pula video hasil rekaman, saya simpan rapi di laptop. Hanya sesekali saya perlihatkan di depan kelas mahasiswa kriminologi UI sebagai bahan diskusi mata kuliah \u2018News Making Criminology\u2019 yang saya ampu. Saya minta mereka menganalisis dalam lingkup objek kajian kriminologi, baik aspek jenis, pelaku, korban, maupun reaksi sosial. Bisakah, misal, dilihat dari perspektif \u2018property crime\u2019, money laundering, terrorism?<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Hari-hari ini, kalau kita googling, kita bisa menemukan beberapa berita di media daring kasus \u2018black dollar\u2019 di Indonesia. Terbesar pada tahun 2015, ketika Satuan Tugas Khusus TNI AL menemukan 69.000 \u2018black dollar\u2019 AS dari hasil pengembangan kasus narkotika. Tahun 2017, Polda Jakarta mengamankan seorang warga negara asing yang mengaku memiliki uang dolar senilai Rp27 milar yang tengah mencari korban. Di laman YouTube malah ada yang menawarkan mesin pencuci khusus \u2018black dollar\u2019 maupun \u2018white dollar\u2019. Namun di lain pihak ada yang menilai \u2018black dollar\u2019 adalah legal. Sah untuk transaksi secara umum. Mana yang benar? (Red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PENAINDONESIA.NET &#8211; DI Indonesia, \u2018black dollar\u2019 boleh dibilang sebuah fenomena \u2018gunung es\u2019. Banyak kasus, sedikit yang terendus. Apa, siapa, bagaimana, dan mengapa \u2018black dollar\u2019, hingga kini masih diselimuti misteri. Diberi nama \u2018black dollar\u2019 sebab wujudnya memang berupa potongan kertas warna hitam seukuran uang dolar AS. Sepintas sih tidak ada harganya. Cuman kertas. Tetapi melalui proses &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":9046,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[195,371],"tags":[],"class_list":["post-9045","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-hukum-dan-kriminal"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9045","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9045"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9045\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9047,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9045\/revisions\/9047"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9046"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9045"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9045"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/penaindonesia.net\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9045"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}