
Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua
PASURUAN(penaindonesia.net) – Tanggal 2 Mei bukan sekadar seremonial upacara dan tabur bunga di makam Ki Hajar Dewantara. Hardiknas 2026 dengan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” adalah alarm keras bagi kita semua.
Partisipasi semesta artinya tidak ada lagi yang jadi penonton. Pemerintah, guru, orang tua, dunia usaha, media, tokoh agama, bahkan tukang becak di depan sekolah, semua punya peran. Sebab pendidikan bermutu untuk semua tidak akan lahir dari kerja Kemendikbud sendirian.
Masalahnya, hari ini ekosistem pendidikan kita sedang sakit. Sekolah bagus numpuk di kota, sekolah pelosok roboh atapnya. Guru di Jawa berebut sertifikasi, guru di Papua belum tentu dapat gaji tepat waktu. Lulusan SMK banyak, tapi industri bilang “tidak siap pakai”.
Ini belum bicara luka yang lebih dalam: intimidasi, kriminalisasi, dan pembunuhan karakter terhadap guru. Bagaimana mau bicara mutu jika guru mengajar dengan rasa takut?
2. 3 Penyakit yang Melumpuhkan Partisipasi Semesta
Sebagai pengamat pendidikan dan sosial, saya catat ada 3 kanker yang harus kita operasi bersama:
Penyakit Bentuk di Lapangan Akibat bagi Mutu
1. Intimidasi Guru Guru ditekan kepsek karena beda pilihan. Guru di-WA orang tua: “Awas kalau anak saya nilainya jelek!” Guru dipanggil polisi karena cubit murid yang pukul temannya. Guru trauma, pilih “aman” daripada mendidik. Kelas jadi hambar, tanpa ketegasan.
2. Kriminalisasi Pendidik Laporan UU ITE karena guru posting disiplin siswa. Guru dipenjara karena pukulan ringan untuk mencegah tawuran. Padahal orang tua yang lapor, dulu nakalnya lebih parah. Guru cuci tangan. “Biarin saja murid tawuran, daripada saya masuk bui.” Akhlak murid hancur.
3. Pembunuhan Karakter Fitnah di grup WA: “Guru X pungli.” Padahal uang kas kelas. Guru diframing “anti-kritik” karena tak ikut arus. Karir guru honorer digantung 15 tahun tanpa kejelasan. Guru kehilangan martabat. Guru terbaik mundur. Yang tersisa guru yang patah hati.
*Ingat: tidak ada pendidikan bermutu tanpa guru yang bermartabat.* Pesawat secanggih apapun tak akan terbang jika pilotnya diborgol.
3. Makna “Pendidikan Bermutu untuk Semua” Versi Rakyat
Kita sering salah kaprah. Bermutu bukan berarti semua sekolah harus seperti sekolah favorit di kota dengan AC dan smartboard.
Bermutu untuk semua artinya 3 hal:
1. Berkualitas: Lulusannya beradab dan kompeten. Bisa ngaji, bisa ngoding. Santun pada orang tua, terampil di dunia kerja.
2. Merata: Anak petani di Pasuruan dapat kualitas guru yang sama dengan anak pejabat di Jakarta. Tidak ada lagi sekolah buangan.
3. Berkeadilan: Anak miskin, anak disabilitas, anak di pulau terluar, semua dapat akses dan perlakuan yang adil. Tidak ada diskriminasi karena amplop dan orang dalam.
Ini hanya bisa terjadi jika partisipasi semesta jalan. Bukan partisipasi basa-basi.
4. 5 Jurus Tingkatkan Komitmen & Sinergi Tanpa Melukai Guru
Untuk mewujudkan tema Hardiknas 2026, saya usulkan 5 jurus praktis menuju Indonesia emas :
Jurus 1: Pemerintah Lindungi Guru, Bukan Hanya Menuntut tetapi menjaga haknya.
Kemendikbud & Kemenag wajib terbitkan Peraturan Perlindungan Profesi Guru, Isinya:
Mediasi wajib sebelum proses hukum pada kasus disiplin.
Sanksi tegas bagi pembuat laporan palsu ke guru.
Percepatan PPPK & kepastian karir honorer.
Sebab guru yang perutnya lapar dan hatinya was-was tidak bisa melahirkan generasi emas.
Jurus 2: Orang Tua Jadi Partner, Bukan Hakim
Hentikan budaya “Lapor Polisi Dulu, Tabayyun Belakangan” Ganti dengan “Sowan ke Sekolah, Duduk Bersama, Cari Solusi”. Ingat QS. Al-Hujurat: 6.
Jika anak Anda ditegur guru, bersyukurlah. Artinya masih ada yang peduli akhlaknya.
Jurus 3: Dunia Usaha – Nikah Beneran, Bukan Pacaran,
Industri jangan hanya minta lulusan siap kerja, tapi tutup pintu magang. Buka teaching factory_ di SMK. Beri beasiswa ikatan dinas. Rekrut tanpa minta uang pelicin. *Ini partisipasi semesta yang nyata.*
Jurus 4: Media & Tokoh mas , Stop Framing, Start Supporting.
Media, berhentilah jadikan guru sebagai konten. Satu kasus guru cubit, diberitakan seminggu. Ribuan guru berprestasi, tidak ada yang meliput. Tokoh masyarakat, jadilah pemadam, bukan kompor saat ada konflik guru-murid.
Jurus 5: Guru Jaga Marwah, Tegakkan Adab
Bapak Ibu Guru, partisipasi kita adalah menjaga martabat profesi. Jangan pungli. Jangan malas. Jangan baper. Didik dengan cinta, tegas dengan adab. Jika kita mulia, Allah yang akan bela kita.
5.Penutup: Komitmen Baru di Hardiknas 2026
Saudara sebangsa, tema “Menguatkan Partisipasi Semesta” akan jadi jargon kosong jika kita masih membiarkan guru diintimidasi dan di kriminalisasi. Akan jadi spanduk basi jika kita masih mengkriminalisasi pendidik yang ikhlas.
Maka pada Hardiknas 2 Mei 2026 ini, mari kita ikrarkan 3 komitmen:
1.Komitmen Melindungi, Stop semua bentuk intimidasi, kriminalisasi, dan pembunuhan karakter terhadap guru.
2.Komitmen Melayani, Pastikan tidak ada anak Indonesia yang putus sekolah karena miskin, jauh, atau difabel.
3.Komitmen Bersinergi, Pemerintah buat regulasi, industri buka akses, orang tua jadi partner, guru jaga marwah.
Sebab pendidikan bermutu untuk semua bukan hadiah dari langit. Ia adalah hasil kerja semesta. Hasil dari tetes keringat guru yang aman, doa orang tua yang percaya, dan keberpihakan penguasa yang adil.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026.
Saatnya bergerak bersama. Tanpa menyakiti. Tanpa mencederai. Karena memuliakan guru berarti memuliakan masa depan bangsa.(#)
# Subari adalah:Pengamat Pendidikan dan Sosial Masyarakat.
Penulis Buku “Manajemen Pendidikan Berbasis Cinta dan Kasih Sayang”
Domisili di kabupaten Pasuruan, Jawa Timur



