Nasional

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan : Politik dengan Etos Pancasila di Pundak Generasi Milenial

Penaindonesia.net. Revolusi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah umat manusia. Dengan kata lain, revolusi adalah sebuah keniscayaan sejarah walau kehadiran dan kedatangannya tak bisa diprediksi. Ia datang dalam situasi yang dipilihnya sendiri.

Namun, Ia juga membuka segala kemungkinan untuk terus diupayakan.

Dalam satu dekade terakhir, nyaris tanpa kita sadari, revolusi telah terjadi di negeri ini, bahkan dunia. Tanpa pekik suara massa dan tanpa letusan senjata, sebuah generasi yang kini kita sebut sebagai generasi melenial telah mengubah tatanan sosial, ekonomi dan politik kita lewat dunia digital yang terus tumbuh dan berkembang tak tertahankan.

Mereka juga dikenal sebagai generasi Y. Sebuah generasi yang lahir dan tumbuh dengan nyaman dalam lingkungan serba digital.

Namun, generasi milenial bukan sekadar generasi manusia dalam bingkai kelompok umur. Mereka membentuk gaya hidup, cara pandang, dan perilaku, yang berpengaruh lintas generasi.

Dalam acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Denpasar 4 hari lalu, saya secara khusus memberi penekanan akan pentingnya generasi milenial lebih aktif dalam politik untuk menegakkan etos politik berlandaskan Pancasila.

ITAKIMO Konten Kreator Inspiratif yang Sudah Go Internasional

Sejatinya, acara yang dihelat oleh anggota MPR dari Bali, Made Mangku Pastika, tersebut dihadiri oleh tokoh tua dan muda.

Namun sebagai salah satu pemateri dalam acara tersebut saya secara khusus mengajak generasi milenial sebagai representasi generasi muda untuk melawan politik identitas, memerangi sikap-sikap intoleransi dan menegakkan nilai-nilai pluralisme melalui jalan politik.

Bagi saya generasi milenial masih jauh lebih terbuka terhadap nilai-nilai kebangsaan karena belum terkontaminasi oleh paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Selain itu, generasi milenial merupakan kelompok umur terbesar dalam komposisi pemegang hak pilih di Indonesia saat ini.

Di tengah keprihatinan semakin maraknya politik identitas dan kecenderungan politisi untuk mengusung panji-panji agama dan identitas-identitas primordial lainnya dalam politik, generasi milenial mesti lebih berani tampil untuk memberi contoh etos politik yang berdasarkan pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhineka Tunggal Ika).

Kontestasi politik menuju 2024 diyakini akan memacu peningkatan praktek-praktek politik identitas yang bisa menggerus semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Polarisasi masyarakat yang sangat tajam dalam dua periode Pilpres sebelumnya, berpotensi terulang kembali dan tak menutup kemungkinan akan semakin tajam karena kini politik identitas dijalankan semakin terang benderang.

Maka perlu antisipasi sedari mungkin dan generasi milenial yang lebih melek informasi adalah pilar utama untuk menjaga keutuhan bangsa ini karena banyak politisi senior justru telah gagal menunjukkan teladan berbangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila.

Peringatan hari lahir Pancasila ini merupakan momentum terbaik untuk meningkatkan kesadaran kita semua, terutama generasi milenial sebagai kelompok umur terbesar dalam komposisi pemilih di Indonesia saat ini, agar senantiasa berpegang teguh pada Empat Pilar Kebangsaan sebagai dasar kehidupan kita sebagai bangsa multi-etnis, multi-agama, multi-budaya dan beragam kekhasan daerah.

Sekalipun berbagai upaya dan kreativitas telah diupayakan untuk membuat nilai-nilai Pancasila dan 3 pilar lain tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat, keterlibatan generasi milenial dalam politik perlu terus didorong untuk memperkuat perwujudan semua nilai-nilai kebangsaan tersebut.

Dalam masyarakat yang semakin terdidik, tidak relevan lagi berpegang pada streotipe lama bahwa politik merupakan wilayah yang kotor dan mesti dijauhi.

Saya yakin keterbukaan informasi dan kelebihan kaum milenial dalam mengoperasikan teknologi informasi, membuat mereka lebih mampu memahami bahwa politik sejatinya adalah upaya untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

Sejalan dengan rumusan tersebut, politik juga mesti menjadi upaya untuk mewujudkan persatuan yang kokoh di tengah keberagaman sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila karena tanpa persatuan, kesejahteraan bersama mutahil dapat diwujudkan.

Seorang dramawan dan sutradara teater terkenal dari Jerman, Bertolt Brecht, pernah mengatakan bahwa buta terburuk adalah buta politik. Sekalipun kutipan ini telah dianggap klise, kebenarannya tak pernah lekang sepanjang zaman.

Polarisasi masyarakat yang tajam dalam beberapa kali kontestasi politik sebelumnya adalah bukti dari banyaknya masyarakat yang masih buta politik sehingga dengan mudah terhasut oleh permainan politik identitas.

Dalam hal inilah generasi milenial dengan literasi yang jauh lebih baik diharapkan dapat membawa pencerahan-pencerahan politik di tengah masyarakat dan selanjutnya dapat menjadi pelaku politik dengan etos kebangsaan.

Kita telah menyaksikan banyak negara di dunia yang terus dirundung pertikaian bahkan perpecahan karena para elitenya selalu mengedepankan politik identitas di tengah masyarakat dengan pemahaman politik yang sangat minim.

Masyarakat terbelah dalam kelompok-kelompok primordial (suku, agama, daerah dan sebagainya). Semua berpegang pada supremasi kelompok primordial masing-masing.

Contoh-contoh seperti itulah yang sering dikahwatirkan salah  satu guru bangsa kita yang baru saja wafat, Syafii Maarif. Hingga di usia senja, beliau tidak pernah lelah berbuat kebaikan dan terus melahirkan pemikiran-pikiran demi keutuhan bangsa ini.

Maka untuk meneruskan perjuangan beliau, kita mesti berani menggarami dunia politik dengan etos kebangsaan yang termaktub dalam Pancasila. Tanggungjawab lebih besar kini ada di pundak generasi milenial.

Selamat merayakan hari lahir Pancasila dan teruslah menggelorakan persatuan negeri ini.(red /kur)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button